Kisah ini di kemukakan oleh imam Baghawi dan lainnya :
Alkisah, pada zaman dahulu di kalangan bangsa Bani israil ada seorang laki-laki kaya raya, dan ia mempunyai seorang saudara sepupu yang miskin, satu-satunya pewarisnya. Ketika kematian yang diharapkan saudara sepupunya yang miskin itu tidak juga merenggutnya, maka akhirnya ia pun dibunuh oleh saudara sepupunya yang miskin itu demi merebut warisannya. Kemudian jenazahnya dibawa oleh saudara sepupunya itu ke desa lain lalu dibuangnya di suatu tanah kosong di sana. Keesokan harinya, ia bersandiwara seakan-akan hendak menuntut balas kematian saudaranya itu. Maka orang-orang pun pergi menemui Nabi Musa AS untuk melaporkan kasus pembunuhan tersebut. Mereka meminta kepada Nabi Musa agar berdoa memohon kepada Allah supaya Allah menjelaskan siapa sebenarnya si pembunuh itu.
Lalu Nabi Musa menyuruh mereka supaya menyembelih seekor sapi. Kata Nabi Musa (sebagaimana disebutkan dalam Alquran): "Allah menyuruh kamu supaya kamu menyembelih seekor sapi!" Mereka menjawab: "Apakah Tuan mau mengolok-olok kami?" (Kami menanyakan tentang siapa pembunuhnya, malah disuruh menyembelih seekor sapi). Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari termasuk ke dalam golongan orang-orang jahil." Yakni, jahil karena menjadikan orang mukmin sebagai buah ejekan; ada pula yang mengatakan maksudnya adalah, jahil karena memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan permintaan
Ketika orang banyak mengetahui bahwa perintah menyembelih sapi betina itu benar-benar merupakan suatu perintah yang pasti datangnya dari Allah SWT, maka mereka pun lalu meminta penjelasan tentang sifat sifat sapi yang harus disembelih itu. Di balik kejadian ini ada hikmat yang sangat besar, yaitu: Dahulu, di kalangan Bani Israil ada seorang laki- laki salih. Laki-laki itu mempunyai seorang anak yang masih bayi, dan ia juga mempunyai seekor anak sapi. Kemudian anak sapi dibawanya ke hutan lalu dilepasnya sambil berdoa: "Ya Allah, aku titipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku apabila ia sudah besar kelak." Tak lama setelah itu, laki-laki salih tersebut meninggal dunia. Maka tinggallah anak sapi itu di hutan tersebut. Apabila ada orang yang melihatnya l, ia pun lari ke tengah hutan.
Anak lelaki salih itu akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang berbakti kepada ibunya. Ia membagi waktu malamnya menjadi tiga sebagian untuk beribadat kepada Tuhannya, sebagian untuk tidur, dan sebagian untuk duduk di dekat kepala ibunya. Apabila tiba waktu pagi, maka ia berangkat mencari kayu bakar, lalu dibawanya ke pasar dan dijualnya di sana. Uang hasil penjualan kayu bakar itu dibaginya tiga,.sepertiga disedekahkannya, sepertiga untuk makannya dan sepertiga lagi diberikannya kepada ibunya.
Pada suatu hari ibunya berkata kepadanya: "Ayah mewariskan untukmu seekor anak sapi yang dititipkannya kepada Allah di tengah hutan anu, maka pergilah ke sana lalu memohonlah kepada Allah dengan berkat Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Ishak supaya Dia mengembalikan anak sapi itu kepadamu. Ciri-ciri anak sapi itu adalah apabila engkau melihatnya maka kulitnya akan tampak kuning keemas- emasan."
Maka berangkatlah anak muda itu ke hutan yang dimaksud. Di sana dilihatnya ada seekor sapi yang ciri-cirinya persis seperti yang digambarkan oleh ibunya. Lantas anak muda itu berkata:"Aku mengundangmu dengan nama Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakqub." Maka sapi itu pun mendekati pemuda itu lalu berdiri di depannya. Pemuda itu memegang leher sapi itu dan menuntunnya sambil berjalan pulang. Dengan kuasa Allah, sapi itu berbicara: "Wahai pemuda yang bakti kepada ibunya, tunggangilah saya karena itu akan lebih menyenangkan bagimu," Pemuda itu menjawab: "Ibuku tidak menyuruhku melakukan itu, ia hanya mengatakan supaya aku memegang lehermu."Sapi itu lalu berkata: "Demi Tuhan Bani israil, kalau kau menunggangiku maka engkau tidak akan bisa lagi menguasaiku selama-lamanya. Mari pergi, seandainya engkau menyuruh gunung supaya lepas dari bumi dan berjalan mengikutimu, niscaya ia akan melakukan itu, karena baktimu kepada ibumu Maka berjalanlah pemuda itu sambil menuntun sapi tersebut hingga akhirnya sampai di rumahnya.
Ibunya lalu berkata kepadanya: "Anakku, engkau adalah seorang yang miskin dan tak berharta sama sekali Sungguh berat mencari kayu bakar di waktu siang dan beribadat di waktu malam. Karena itu bawalah sapi ini ke pasar dan juallah di sana, Anak muda itu menjawab: "Berapa harus saya jual?"Ibunya menjawab: "Tiga dinar. Dan jangan dijual kecuali
sesudah berunding denganku Harga sapi di kala itu memang tiga dinar.
Maka berangkatlah pemuda itu ke pasar sambil menuntun sapi tersebut. Lalu Allah mengirim seorang malaikat untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya
dan untuk menguji kebaktian pemuda itu kepada ibunya. Padahal Ia Maha Mengetahui segala sesuatu. Malaikat itu bertanya kepada si pemuda "Berapa kau jual sapi ini?". Pemuda itu menjawab: "Tiga dinar ! Saya harus meminta keridhaan ibuku dulu." Malaikat itu berkata:
enam dinar, tapi engkau jangan minta keridaan ibumu lagi." Pemuda itu menjawab: "Biar saya dibayar emas seberat badan sapi ini, saya tidak akan menjualnya kecuali dengan ridha ibuku." Kemudian pemuda itu pulang dan memberitahukan kepada ibunya tentang tawaran malaikat tersebut. Ibunya lalu berkata: "Juallah dengan harga enam dinar, dengan syarat aku ridha ".
Ketika pemuda itu kembali ke pasar, malaikat bertanya: "Apakah kau sudah minta keridaan ibumu?" Pemuda itu menjawab: "Sudah. Beliau menyuruhku agar tidak menjualnya kurang dari enam dinar, dengan syarat saya harus minta ridhanya dulu." Malaikat itu berkata: Saya akan membayarmu dua belas dinar." Pemuda itu tidak mau menerimanya, ia lalu pulang untuk memberitahukan hal itu kepada ibunya. Ibunya lalu berkata: Sebenarnya orang itu adalah seorang malaikat yang menyamar sebagai manusia, dikirim Allah untuk mengujimu. Jika engkau bertemu lagi dengannya maka katakan kepadanya, Apakah Tuan suruh saya menjual sapi ini atau tidak?" Pemuda itu pergi lagi ke pasar. Ketika ia bertemu kembali dengan malaikat itu, maka disampaikannya pesan ibunya kepada malaikat itu. Malaikat itu lalu berkata: "Sampaikan kepada ibumu supaya dia menahan sapi ini, karena Musa bin Imran akan membelinya dari kalian untuk kasus pembunuhan yang terjadi di kalangan Bani Israil Jangan kalian jual kecuali dengan harga emas seberat timbangan sapi itu." Maka sapi itu pun akhirnya tidak jadi mereka jual.
Kaum Bani Israil berkeliling mencari sapi seperti yang disifatkan Allah itu, mereka tidak menemukannya kecuali pada sapi milik anak muda itu. Akhirnya mereka terpaksa membelinya dengan harga emas seberat timbangan sapi tersebut. Kemudian sapi itu mereka sembelih dan potongan daging sapi itu, mereka pukulkan ke mayit yang terbunuh tersebut. Maka dengan izin Allah, mayit itu kembali hidup dengan urat leher berlumuran darah, seraya berkata: "Pembunuhku adalah si fulan." Setelah itu ia mati kembali.
Maka saudara sepupunya itu akhirnya tidak memperoleh warisan apa-apa.
Comments
Post a Comment