Maksud dari menahan hawa-nafsu atau syahwat menurut Tafsir Al-Jalalain bahwa “orang yang senantiasa mengendalikan diri dari mengikuti kemauan hawa nafsunya”. Kemudian menurut Tafsir Ibnu Katsir adalah “orang-orang yang senantiasa takut dengan Allah SWT dan dengan ketentuan hukum-Nya”. Sehingga ia mengendalikan jiwanya atau dirinya dari jeratan syahwat dan berusaha untuk senantiasa taat kepada Allah Ta'ala.
Sedangkan dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa yang dimaksud orang yang menahan dirinya dari hawa nafsunya adalah orang yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Salah seorang Sahabat nabi yang bernama Sahal Radhiallahu 'anhu berkata: "Bahwa meninggalkan hawa nafsu adalah kunci pembuka pintu surga".
Abdullah bin Mas’ud r.a., berkata: “Kalian sedang berada pada zaman dimana manusia mendahulukan kebenaran daripada hawa nafsunya, dan akan datang suatu zaman dimana manusia mendahulukan hawa nafsunya daripada kebenaran, maka kami berlindung dari zaman yang demikian”.
Firman Allah tentang larangan mengitu hawa nafsu :
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami Lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginan (hawa nafsu)nya.” (QS.al-Kahf:28)
Mengikuti hawa nafsu adalah sumber kekafiran dan kebinasaan.
فَلاَ يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لاَ يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى
“Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginan (hawa nafsu)nya, yang menyebabkan engkau binasa.” (QS.Thaha:16)
Mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang terburuk.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan (hawa nafsu)nya.” (QS.al-Qashas:50)
Mengikuti hawa nafsu menghalangi seseorang untuk berbuat adil.
فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى
“Berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu.” (QS.Shad:26)
Dalam kitab An Nawadir di sebutkan :
Ada ssorang hamba Allah dari Bani Israil yang bernama barshisha. Dia seorang ahli ibadah yang sangat terkenal selama bertahun - tahun. Pada suatu ketika, penguasa negeri itu di karuniai oleh Allah seorang anak perempuan dan ia takut kalau ada anak laki - laki yang menyentuhnya. Ia menitipkannya kepada Barshisha di tempat ibadahnya sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Anak itu tumbuh dewasa di bawah asuhannya.
Kemudian Iblis laknatullah datang dalam bentuk laki - laki tua dan menghasutnya agar berbuat mesum dengan gadis itu. Ia pun terbujuk oleh rayuan iblis itu sehingga gadis itu mengandung. Tatkala kandungannya mulai membesar, iblis datang kembali dan berkata " Kau adalah hamba Allah yang zuhud. Jika gadis itu sampai melahirkan, maka perbiatanmu akan di ketahui oleh masyarakat dan nama baikmu akan tercemar. Oleh karena itu, bunuhlah ia sebelum melahirkan dan katakan kepada orang tuanya bahwa puterinya telah meninggal. Dia akan mempercayai ucapanmu sehingga kau dapat menguburnya tanpa di ketahui oleh siapapun.
Lalu Barshisha membunuhnya dan memberitahukan hal ini kepada penguasa selaku ayah dari gadis itu. Lalu ia mengubur mayatnya dengan izin dari penguasa tersebut.
Kemudian iblis datang kepada penguasa itu dalam rupa seorang laki - laki yang alim dan memberitahukan kepadanya akan kejadian yang sebenarnya. Iblis berkata " kalau engkau tidak mempercai perkataanku, galilah kuburannya dan sayatlah perutnya. Jika di dalam perutnya kau melihat bayi, berarti aku benar. Dan jika tidak, Silahkan engkau bunuh aku. "
Lalu penguasa itu pergi ketempat peribadatan Barshisha dan menggali kubur anaknya dan membelah perutnya. Ia pun melihat seorang bayi sebagaimana di kisahkan oleh iblis. Ia pun memanggil Barshisah dan menyuruhnya naik ke atas unta untuk di bawa ke kerajaan dan di salib.
Dalam keadaan tersalib, iblis mendatanginya dan berkata " Kau bebuat zina dengan gadis itu atas perintahku. Dan kau membunuhnya juga karena perintahku. maka, berimanlah kepadaku niscaya aku akan membenaskanmu dari siksa raja ". Ketika itu, keadaan Barshisha sudah sangat menggenaskan hingga ia menyatakan beriman kepada iblis.
Setelah itu, iblis pergi meninggalkannya . Ia berseru " Hai..! mengapa engkau meninggalkan aku ?." " Aku takut kepada Allah SWT ". Jawab iblis seraya berlalu meninggalkannya.
Semoga Allah selalu menghidupkan kita dalam iman, mematikan kita juga dalam iman.. aaamiiiiin....
Kitab An Nawadir ..

Comments
Post a Comment