Kisah sedih seorang prajurit Muslim





 Suatu hari, Aku sedang melakukan thawaf. Disana terdapat seorang laki - laki sedang sujud seraya berkata " Apa yang telah engkau perbuat terhadap hambaMu yang terlarang ini? ". Setiap aku melewatinya, Ia Selalu sedang mengatakan seperti itu. Kitika Thawafku sudah selesai dan ia bangun dari sujudnya, aku bertanya kepadanya tentang hal itu.
    Dia menjawab " Suatu ketika kami sedang berada di negeri Romawi hendak menyerang benteng mereka. Pemimpon pasukan kami mempersiapkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar untuk pergi kesana. Ia memilih sepuluh penunggang kuda diantara kami untuk menjadi mata - mata. Salah satunya Aku. Kemudian kami pergi ke suatu twmpat di gurun pasir dan melihat sekitar enam puluh pasukan kafir. Di tempat lain kami melihat sekitar seratus pasukan lagi. Lalu kemudian kami kembali kepada pimpinan dan melaporkan hasil pengintaian kami kepadanya.
       Ia mengutus stu pasukan untuk menghadapi mereka, tetapi mereka berhasil menawan pasukan kami. Kemudian ia berkata kepada kami " Kalian semua diberkati ! Keluarlah pada malam hari sebagai mata - mata seperti biasa ". Kami mematuhi perintahnya, namun kami takluk di tangan seribu pasukan berkuda dan kami di jadikan tawanan. Mereka membawa kami kehadapan kaisar Romawi dan ia memerintahkan prajuritnya untuk memenjarakan kami.
      Pada suatu hari, Kaisar Romawi mendengar kabar yang mengatakan bahwa pasukan muslimin membunuh pasukan Romawi yang tertawan dan salah satunya adalah sepupunya.  Ia sangat sedih atas peristiwa itu.  Ia memerintahkan prajuritnya untuk membunuh kami dalam keadaan mata tertutup. Kemudian seorang penasehat mengusulkan kepada kaisar " Adalah sebuah keringanan bagi mereka jika mata mereka tertutup. Aku mengusulkan untuk membukanya agar mereka melihat penyiksaan teman - temannya yang lain, dengan demikian penyiksaan terhadap mereka lebih pedih".
      Kaisar menyetujui usulannya dan memerintahkan untuk membuka mata kami.  Aku melihat penasehat itu menggunakan kain sutera dan bermahkotakan emas. Seseorang di sampingku telah murtad, aku tidak mampu untuk mencegahnya. Kemudian aku memandang ke langit dan aku melihat sepuluh bidadari yang masing - masing membawa sapu tangan dan pinggan. Di atas mereka terdapat sepuluh pintu yang terbuka.
     Kemudian algojo mulai membunuh kami satu persatu. Setiap kali salah seorang di antara kami terbunuh, maka setu bidadari turun menjemput ruhnya, membungkusnya dengan sapu tangan serta meletakkannya di atas pinggan. Lalu ia membawanya naik melewati salah satu pintu yang terbuka. Sementara itu, aku mendapatkan giliran yang terakhir.
     Ketika tiba giliranku, seorang bidadari turun untuk melakukan hal serupa terhadapku sebagaimana bidadari yang lain. Tatkala algojo hendak membunuhku, penasehat berdiri menyampaikan usulannya kepada kaisar " Wahai baginda ! Seandainya engkau membunuh semua tawana, lalu siapa yang akan memberitahu kaum muslimin tentang pembantaian ini? Biarkan i hidup agar dapat menceritakan hal ini kepada mereka ". Kaisar menerima usulannya dan membiarkan aku tetap hidup. Bidadari yang tadi hendak menjemputku pergi meninggalkanku sambil berkata " Dia terlarang, dia terlarang !". Kaisar memerintahkan prajuritnya untuk melepaskan aku.
      Oleh karena itu, aku merendahkan diri disini sambil mengatakan " Wahai Tuhanku ! Apa yang kau perbuat terhadap diriku yang terlarang ini ?".

Comments