Kisah imam syafi' teguh pendirian



 
  Al Maaliqy berkisah dalam kitab syarahnya :
      Sesungguhnya Harun Ar Rasyid telah menghadap kepada Imam Syafi'i untuk mendapatkan keringanan dari imam Syafi'i agar ia di perbolehkan mengawini seorang  budak perempuan yang telah di tinggalkan oleh saudaranya yaitu Musa Al Hadi. Saudaranya itu meminta kepada Harun A Rasyid untuk bersumpah tidak akan mendekati budak perempuan itu jika dia telah meraih kekhalifahan. Lalu Harun Ar Rasyid bersumpah dengan beberapa sumpah , diantaranya berjalan kaki ke Baitul Haram tanpa alas kaki.
    Ketika saudaranya Musa al Hadi meninggal, Harun Ar Rasyid mencari keringanan agar ia bisa mengawini budak itu. Namun, Imam Syafi'i tidak memenuhi permintaannya karena ia telah bersumpah. Lalu Harun Ar Rasyid mengancamnya dan pergi meninggalkannya. Imam syafi'i pun gelisah dan senantiasa shalat hingga ia tertidur di tempat shalatnya.
     Pada suatu Malam ia bermimpi seolah - olah ia berada di hadapan Allah SWT, lalu ia di seru " Wahai Muhammad ( syafi'i ) ! kamu tetaplah dalam agama Muhammad, jauhilah dari berbuat menyimpang, jika menyimpang maka kamu akan sesat dan menyesatkan orang lain. Bukankah kamu imam kaum, ? Jika kamu tidak menyimpang maka kamu akan si takutinya dan di seganinya." Bacalah :
    إنّا جعلنافى أعناقهم اغلالا فهى إلى الأذقان فهم مقمحون.
    " Sesungguhnya kami telah memakai belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka ( diangkat ) kedagu. maka karena itu mereka bertengadah ( q.s. yasin : 8 )
      Imam Syafii lalu berkata " Aku bangun dlam keadaan membaca ayat tersebut. Pada waktu Subuh, Aku mengerjakan shalat subuh, kemudian aku merasa malas. Ketika itu ada seseorang yang berkata kepadaku " Harun Ar Rasyid akan memanggilmu agar mengahadapnya. Janganlah kamu takut selama kamu masih hidup dan bacalah dalam hatimu jika kamu berjalan kepadanya akan do'a Khaaif ( orang dalam keadaan takut ). Sesunggunya kamu tidak akan melihat darinya kecuali kebaikan.
      Kemudian aku bangkit dan mengucapkan do'a tersebut.
   :  Ya Allah , sesungguhnya aku mengadu kepada engkau, kekuatanku lemah, sedikit siasatku, aku di pandang hina oleh manusia . Wahai Zat Yang Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan orang - orang yang di pandang lemah dan sesungguhnya Engkau adalah tuhanku, kepada siapakah engkau akan menyerahkanku ? Apakah kepada Musuh yang jauh yang akan menyerangku atau kepada teman qarib yang engkau jadikan ia memiliki urusanku. Jika engkau tidak membenciku, maka aku tiada peduli, tetapi  keselamatan Engkau sangat luas untukku. Aku berlindung kepadaMU dengan cahaya ZatMU yang menyinari kegelapan, perkara dunia dan akhirat menjadi baik karenanya. Aku berlindung kepadaMU dari turunya kemarahanMU kepadaku atau kemarahanmu tinggal padaku. Hanya bagiMu segala puji sehingga Engkau ridha dan tiada daya dan upaya  dan tiada kekuatan melainkan dengan perolonganMu"
     Ia berkata " Maka aku belum menyempurnakan bacaanku hingga terdengar ketukan pintu, lalu aku keluar untuk menemui Rabii' ( pembantu Harun ). Ia berkata " Wahai tuan, khalifah memintamu untuk datang kepadanya. Lalu berjalanlah aku bersama Rabii'.  Sesampainya aku di istana, Khalifah Harun berdiri menyambutku dan tersenyum seraya berkata " Sebaik - baik orang muslim adalah engkau dan sebaik - baik imam adalah imam yang seperti engkau, yang tiada terpengaruh oleh cacian orang yang suka mencaci, kamu tetap berada di jalan Allah. Ketahuilah wahai Faaqiih, sesungguhnya pada malam tadi aku telah di cela karena kejadian yang lalu. Silahkan kamu pergi, semoga engkau selalu di beri petunjuk . Sesungguhnya engkau adalah orang yang di pelihara dan di pandang."
   Harun Ar Rasyid memerintahkan agar imam Syafi'i di beri hadiah sepuluh ribu dinar. Lalu imam Syafi'i membagikan hadih itu di hadapan  Kahlifah kepada oran lain . kemudian Imam Syafi'i pulang.
    Semua itu di karenakan berkah berpegang teguh pada sunnah junjungan Rasul SAW. wal hamdulillahi Rabbal 'alamin      

     Sebagian perkataan Ulama Mazhab Syafi'i tentang imam syafii:

Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah mendengar Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada istrinya yang pada saat itu dimulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak dan apabila kamu memuntahkannya, maka kamu juga aku cerai  maka Imam Syafi’i menjawab " Makan separuh dan muntahkanlah separuhnya.’”

Al-Muzni berkata, “Ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara milik orang lain, maka dia menjawab " Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya. Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkan mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah disembelih.’”

Comments