kisah raja - raja yang cerdik



      Di kisahkan bahwa Kahlifah Kasytaasit memiliki seorang menteri bernama Raasit Rusy. Dengan nama itu, Kahlifah menduga kalau menterinya merupakan orang yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Ia tidak pernah mendengar keburukannya dari siapapun. Tetapi menteri itu tidak pernah bersikap baik.
       Pada suatu hari ia berkata kepada khalifah " Sesungguhnya rakyat akan menyalahgunakan keadilan kita dan jarangnya kita menghukum mereka. Ada yang berkata bahwa jika penguasa berlaku adil, maka rakyatnya akan menyimpang.  Sekarang sudah tercium tanda - tanda pengrusakan mereka dan kita wajib menghukum dan menghalau mereka. Kita harus menyingkirkan rakyat yang suka melanggar, mengusir para pengacau dan mengganjar orang - orang shalih". Lalu khalifah menyetujuinya.
      Maka setiap orang yang di tangkap oleh khalifah, mereka memberikan suap kepada menteri itu yang akhirnya membebaskan mereka hingga mereka tidak mampu lagi membayar dan kehidupan mereka menjadi sempit. Hal itu juga yang membuat simpanan khalifah menjadi habis karena tidak ada pemasukan. Kecurangan ini di ketahui oleh khalifah dan ia pun memeriksa harta simpanannya, Akan tetapi setelah di periksa oleh prajurit, ternyata disana tidak di temukan apa - apa.
        Karena hatinya gelisah, Pada suatu hari khalifah naik kuda menuju perkampungan masyarakat. Dari kejauhan, ia melihat sebuah tenda berdiri, kemudian ia mendatanghinya.  Sesampainya di sana, ia melihat beberapa ekor kambing tertidur dan seekor kambing yang di salip. Lalu dari dalam tenda keluarlah seorang pemuda yang kemudian memberinya salam dan memintanya untuk singgah.
   Kemudian ia menyuguhkan makanan ala kadarnya sesuai kewajibannya sebagai tuan rumah. Kahlifah bertanya " Aku tidak akan memakan makanan yang kau suguhkan sebelum kau ceritakan kepadaku tentang keadaan anjing itu.
   Ia menjawab " Sesungguhnya anjing itu adalah anjing yang di tugaskan untuk menjaga kambing - kambingku.  Anjing itu berteman dengan rubah, mereka tidur dan bangun bersama - sama. Setiap hari rubah itu selalu datang dan memakan kambing - kambingku. Sedangkan aku tidak mengetahui tentang hal ini. Lalu aku memikirkan keadaan kambing - kambingku yang kuperhatikan jumlahnya selalu berkurang setiap hari. Kemudian aku melihat Rubah membawa salah satu kambing, sedangkan anjing hanya terdiam. Sejak itu aku tahu kalau anjing itu telah mengkhianatiku dan itulah sebabnya ia mau menjaga kambingku. Lalu anjing itu aku salip".
      Setelah mendengar penuturannya, khalifah berpikir tentang dirinya dan berkata " Rakyatku adalah ibarat kambing - kambing itu. Berarti aku harus menyelidiki agar dapat mengetahui keadaan rakyatku yang sebenarnya". Lalu ia pulang kerumah dan menganalisa. Kemudian ia mengetahui  bahwa semua ini terjadi karena sikap buruk menterinya .
    Ia membuT sebuah perumpamaan

    " Barang siapa tertipu atas nama orang yang berbuat kerusakan, maka ia akan kembali tanpa bekal. Namun, barang siapa yang berkhianat di dalam bekal itu, maka ia harus kembali tanpa nyawa". 

   Kemudian ia memerintahkan untuk menyalip menteri itu. Wallahu A'lam..
 
Dalam kisah yang lain di ceritakan bahwa  raja Iskandar mwngitus seseorang untuk menemui raja Dar bin Dar. Ketika utusan itu kembali dan menyampaikan jawaban Raja Dar. Iskandar menyangsikan sebuah kalimat yang tertera  di dalam jawaban tersebut. Utusan itu berkata " Sesungguhnya aku mendengarnya dengan kedua telingaku".
      Kemudia Iskandar menuliskan jawaban itu dengan tangannya sendiri dan mengutus orang tersebut untuk memberikan suratnya kepada raja Dar lagi. Ketika raja Dar membacanya ia mengambil sebilah pisau dan memotong kalimat yang tertulis  di dalam surat itu. Lalu ia menulis sebuah kalimat " Sesungguhnya ketulisan niat seorang raja, wataknya yang baik dan pendiriannya yang teguh menunjukkan pemahanamannya tentang kebenaran dan kejujuran ucapan utusannya. Dan sekarang aku potong kalimat  tersebut karena aku tidak pernah mengatakannya. Aku tidak memiliki kesempatan untuk memotong lidah utusanmu" . Lalu ia menyerahkannya kepada utusan raja Iskandar.
       Setelah membacanya , Raja Iskandar memanggil utusannya dan bertanya " Apa maksudmu dengan menambahkan kaliamat atas ucapan Raja Dar?". Ia menjawab " karena ia mengurangi hakku dan aku membencinya". " Celakalah kau ! Apakah aku mengutusmu demi kepentinganmu sendiri atau demi kepentingan kita bersama. ?". Raja menghardiknya.
    Lalu raja Iskandar menarik lidah utusannya dan memotongnya.

 kitab An Nawadir. 

Comments